Surabaya’s Old buildings, where are they now?

Saat orang-orang membicarakan perkembangan kota Surabaya melalui rencana-rencana pembangunan gedung pencakar langit, perancangan kompleks superblok, apakah mereka masih ingat akan bangunan-bangunan tua dan sejarah kota Surabaya? Sejarah bagi saya bukanlah hanya sebatas masa lalu, tapi sebuah waktu yang menyisakan sebuah kenangan, nostalgia, romantik, dan menggambarkan sebuah perjalanan arsitektur.

Bangunan-bangunan lama di kota Surabaya sekarang seperti hanya sebuah gedung kosong tanpa fungsi. Pemerintah memang telah melakukan kegiatan pelestarian, tapi beberapa masih merupakan sekedar pelestarian yang berarti pengawetan, melestarikan dan menjadikannya museum-museum kota. Sebenarnya yang lebih penting adalah menggiatkan kembali aktivitas yang ada dalam bangunan (revitalisasi), dan menggunakan kembali bangunan lama dengan fungsi baru (adaptive-reuse).

Adakah manfaat dari semua kegiatan di atas? Jawabannya adalah pasti ada. Pelestarian dengan menggiatkan kembali aktivitas akan membangkitkan kembali nilai arsitektur bangunan. Masyarakat akhir-akhir ini juga gemar akan kafe-kafe, galeri, dan atau butik yang dulunya merupakan bekas bangunan lama. Mungkin menurut mereka, ini menyimpan sebuah nilai tersendiri dan beberapa orang malah beranggapan ini sebuah romantisme. Saat bangunan tua dimanfaatkan kembali menjadi fasilitas umum, masyarakat akan tertarik dengan nilai sejarah, keunikan arsitektur, dan nilai nostalgia yang dimiliki bangunan tersebut.

Sebenarnya tidak hanya itu, pelestarian sebuah peninggalan kota melalui kegiatan konservasi yang dinamis akan memberikan dampak positif bagi kota yang bersangkutan, yaitu nilai sosial dan ekonomi masyarakat. Coba kita tengok negara-negara maju, lewat pelestarian kota lama, mereka dapat menarik jutaan wisatawan. Akankah kota kita dapat menjadi seperti itu? Jawabnya, pasti bisa.

5 comments
  1. Abd.Wadud Iskandarsyah alias Willy Alexander Pelenkahu said:

    Saya bersekolah di SDN Simpang 1961, SMP IV Tanjung Anom 1966, SMA Trimurti kemudian pindah ke SMAK Frateran. Saya ketika itu tinggal bersama orang tua di Hotel Simpang. Di mana saya bisa mendapatkan foto-foto : The Old Hotel Simpang , Apotik Simpang, RS William Booth (tempat ayah saya menghembuskan nafas terakhir, 1963), Stasiun Gubeng dll. Sekarang sudah punya 3 cucu, tinggal di Jakarta di bilangan Tebet Timur.

    • Bambang Irawan said:

      meskipun terlambat, jika anda masih membutuhkan foto foto lama tersebut, anda bisa masuk di facebook Surabaya Tempo Dulu.

  2. Abd.Wadud Iskandarsyah alias Willy Alexander Pelenkahu said:

    Di mana Ir. Johan Silas? Saya rasa kalau beliau masih hidup, sudah sepantasnya urusan pelestarian bangunan2 bersejarah/kuno diserahkan kepada beliau. Saya pernah mengetahui dedikasi beliau pada pengembangan & pembangunan kota Surabaya di tahun 70-an.

  3. Bambang Irawan said:

    Cak Setyo terus berkarya ya

    • nugrohosetyo said:

      terima kasih cak Bambang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.