Surabaya’s Old buildings, where are they now?

Saat orang-orang membicarakan perkembangan kota Surabaya melalui rencana-rencana pembangunan gedung pencakar langit, perancangan kompleks superblok, apakah mereka masih ingat akan bangunan-bangunan tua dan sejarah kota Surabaya? Sejarah bagi saya bukanlah hanya sebatas masa lalu, tapi sebuah waktu yang menyisakan sebuah kenangan, nostalgia, romantik, dan menggambarkan sebuah perjalanan arsitektur.

Bangunan-bangunan lama di kota Surabaya sekarang seperti hanya sebuah gedung kosong tanpa fungsi. Pemerintah memang telah melakukan kegiatan pelestarian, tapi beberapa masih merupakan sekedar pelestarian yang berarti pengawetan, melestarikan dan menjadikannya museum-museum kota. Sebenarnya yang lebih penting adalah menggiatkan kembali aktivitas yang ada dalam bangunan (revitalisasi), dan menggunakan kembali bangunan lama dengan fungsi baru (adaptive-reuse).

Adakah manfaat dari semua kegiatan di atas? Jawabannya adalah pasti ada. Pelestarian dengan menggiatkan kembali aktivitas akan membangkitkan kembali nilai arsitektur bangunan. Masyarakat akhir-akhir ini juga gemar akan kafe-kafe, galeri, dan atau butik yang dulunya merupakan bekas bangunan lama. Mungkin menurut mereka, ini menyimpan sebuah nilai tersendiri dan beberapa orang malah beranggapan ini sebuah romantisme. Saat bangunan tua dimanfaatkan kembali menjadi fasilitas umum, masyarakat akan tertarik dengan nilai sejarah, keunikan arsitektur, dan nilai nostalgia yang dimiliki bangunan tersebut.

Sebenarnya tidak hanya itu, pelestarian sebuah peninggalan kota melalui kegiatan konservasi yang dinamis akan memberikan dampak positif bagi kota yang bersangkutan, yaitu nilai sosial dan ekonomi masyarakat. Coba kita tengok negara-negara maju, lewat pelestarian kota lama, mereka dapat menarik jutaan wisatawan. Akankah kota kita dapat menjadi seperti itu? Jawabnya, pasti bisa.

 

Advertisements